TEST RIDE: Melahap Jalur Off-Road dengan Yamaha WR 155 R (Part 2)

JAKARTA -- Etape pertama test ride Yamaha WR 155 R sudah kami selesaikan. Berawal dari DDS Cempaka Putih (lokasi start) kami menuju titik pemberhentian pertama (Sirkuit Sentul, Bogor, Jawa Barat). Di bilangan Sirkuit Sentul, kami bersama 19 penunggang Yamaha WR 155 R lain pun dititah beristirahat sejenak. Maklum, perjalanan tadi lumayan bikin pegal, apalagi area bokong.


Sembari kami meregangkan kembali badan dan menghilangkan dahaga, Yamaha Indonesia turut pula melakukan persiapan minor. Maklum setelah menjajal jalanan on-road, kami akan mecoba menyusuri track off-road. "Tekanan anginnya kita kurangi dari 22 psi menjadi 18 psi untuk kedua rodanya (depan-belakang)," kata salah satu teknisi DDS Jakarta. Cara ini memang umum dilakukan, terlebih dari sinilah si motor segera bercengkerama di habitat aslinya. Dengan tekanan lebih rendah, kedua karet bundar diharap mampu memberikan cengkeraman optimal saat melintasi trek non-aspal.


Lepas rehat, medan yang dinantikan pun tersaji. Jarak menuju pemberhentian selanjutnya di Hambalang Hills ini sebenarnya tak terlampau jauh. Namun, mulai ada tantangan di sini. Tak sampai 300 meter setelah memulai etape kedua, WR 155 R langsung diajak menapaki rute bebatuan. Tanjakan dengan sudut kemiringan variatif pun menghiasi perjalanan ke lokasi tersebut.


Yamaha WR 155 R


Bagi Anda yang tidak terbiasa, cukup menyulitkan. Karena kita biasanya sudah keder duluan melihat jalur. Memang butuh teknik khusus supaya mulus melewatinya. Sebagai contoh saat kondisi jalan datar. Berkendara sembari berdiri menjadi opsi utama. Agar pengendalian maksimal, pusat gravitasi harus ada di kedua kaki. Usahakan pula lutut mendekap tubuh motor.


Kemudian mundurkan pinggul dan badan sedikit condong ke depan. Sementara jari pada hand grip mesti menghadap ke bawah, diikuti pula dengan posisi lengan menyiku. Posisi tangan demikian bertujuan sebagai 'suspensi' tambahan buat tubuh. Bayangkan jika tangan Anda lurus, dijamin rasa pegal mendera punggung dan pundak. Cara ini sejatinya mirip dengan teknik menghadapi trek menanjak tadi. Hanya saja tubuh mesti lebih maju dari sebelumnya.


Yamaha WR 155 R


Spesifikasi WR 155 R nyatanya membantu kami dalam melahap rute variasi tersebut. Jarak main fork teleskopik 41 mm dengan jarak main panjang (stroke: 215 mm) dan suspensi belakang monocross-nya (stroke: 185 mm), berfungsi optimal. Padahal, tak sedikit batu-batu kapur berukuran besar yang mesti tergilas. Namun, tak ada sedikit pun gejala bottom out (mentok) muncul dari si peredam kejut itu.


Ketika mendaki itu pula kami mendapatkan impresi sebenarnya seputar perancangan output enjin WR 155 R. Seperti disampaikan pada tulisan sebelumnya, trail Yamaha ini memang dirancang untuk mendapatkan momen puntir besar di putaran bawah. Torsi maksimalnya 14,3 Nm dan sudah dapat dicapai pada 6.500 rpm. Itu pula yang jadi alasan kami tak perlu membetot habis tuas gasnya. Bak sebuah traktor, motor mampu naik di tanjakan hanya menggunakan gigi 2. Terutama jelang masuk pekarangan Hambalang Hills.


Yamaha WR 155 R


Performa Mesin


Kami kembali mendapat kesempatan beristirahat, kali ini lumayan lama. Pasalnya, ada rute full tanah menanti di depan mata. Etape ketiga ini berjarak 10 km dengan titik tujuan ke Goa Garunggang. Singkat, tapi diyakini memberikan kami impresi lebih terhadap WR 155 R. Kombinasi trek berkarakter bumpy dan narrow, menjadi ladang paling pas untuk mencicipi perbekalan sang kuda besi.


Menghadapi jalur sperti ini, sektor utama adalah handling. Kondisi ini menuntut motor sigap menghadapi berbagai kondisi jalan. Kaki-kakinya tadi pun kembali menjawab dengan baik. Pun rangka semi double craddle-nya, stabil. Terlebih di trek menikung - sama seperti kestabilannya ketika kami gunakan di trek aspal. Saking asyiknya berakselerasi, sampai tak terasa kalau WR 155 R punya bobot 134 kg. Belum lagi ketambahan bensin penuh di dalam tangki sebanyak 8,1 liter. Untuk perbandingan, WR 155 R lebih berat dari pada Honda CRF 150 L yang hanya 122 kg.


Yamaha WR 155 R


Rute yang kami hadapi membuat tak jarang mesti cekatan berpindah gigi. Termasuk pula pada jalan menanjak. Di beberapa tanjakan terjal, pihak PT YIMM meminta kami melakukannya secara bergantian. Yang mau tak mau, kami harus memulainya dari gigi 1 ke 2. Kembali, situasi tersebut dapat dilalui tanpa sedikit pun hambatan. Namun trek lebih berat ini juga kian menuntut mesin bekerja esktra. Untungnya, motor trail 155 cc garapan Yamaha dilengkapi sistem pendingin cairan. Peranti ini bekerja otomatis (mendinginkan) ketika suhu mesin mengalami panas berlebih - efek dari kinerja mesin.


Pasca Itulah kami diarahkan kembali ke Hambalang Hills berjarak total 12 km. Namun dengan rute mengitari Goa Garunggang. Sedikit informasi, tempat ini merupakan situs ekologi yang ditemukan pertama kali pada 1987. Goa di bawah naungan Perhutani Bogor ini dilengkapi susunan batu dengan beragam ukuran. Sedangkan di bagian bawah terdapat goa berhiaskan stalagtit menggantung. Ingin rasanya berkeliling, namun istirahat sepertinya adalah keputusan paling bijak saat itu. Mengingat pula masih ada perjalanan lagi yang mesti ditempuh untuk kembali ke titik semula.


Yamaha WR 155 R


Sistem Pengereman


Lantaran didominasi jalan menurun, kami anggap ini sebagai 'bonus' karena tak perlu lagi menyiksa secara berlebih. Kendati begitu, bukan berarti tantangannya lantas menghilang. Buktinya, kami harus melewati dulu turunan curam, sebelum akhirnya tiba di belakang pemukiman warga. Teknik dengan membuat badan ke belakang sudah jadi metode mutlak untuk mengurangi gaya gravitasi. Disarankan pula kepada kami untuk menggunakan gigi paling rendah (gigi 1), sembari menahan laju motor dengan cara memainkan kopling (tekan-lepas) agar mendapatkan efek engine brake.


Cara itu sebenarnya paling tepat, ketimbang menggunakan rem depan yang seketika dapat memindahkan bobot ke bagian depan. Pun demikian pada rem belakang. Dengan sepatu boot tebal, penguji selain kami pun pasti tak bisa melakukan pengereman secara ideal. Apalagi penghenti laju WR 155 R terbilang pakem. Jika pun menekannya terlalu keras, dapat mengakibatkan hilangnya kestabilan pengendalian.


Yamaha WR 155 R


Secara garis besar, sesi test ride garapan Yamaha Indonesia ini menyajikan pengujian yang lengkap untuk WR 155 R. Mulai dari jalan aspal, bebatuan, trek tanah berkarakter bumpy hingga tanjakan dan turunan dengan kemiringan beragam. Benar-benar memberikan menu lengkap untuk WR 155 R, terlebih saat mengarahkan laju roda ke titik sentral kami di Goa Guranggang. Sebuah pemaparan nyata untuk sebuah produk dual purpose. Namun, ia memiliki penawaran lain di kelas trail 150 cc yaitu pendingin cairan, lengkap dengan radiator. Mengenai kaki-kaki teleskopik si WR, sepertinya pun bukan jadi hal yang mesti diperdebatkan.


Menyoal karakter ayunan suspensi teleskopik maupun up-side down, tentu kembali kepada personifikasi pengendara masing-masing. Khususnya di trek off-road, feedback dari peredam kejut kepunyaannya masih sangat ideal. Terakhir, tinggal seberapa tertarik Anda akan harga WR 155 R. Yamaha Indonesia membanderol Rp 36,9 juta. Ditawarkan dalam dua varian warna yakni biru dan hitam. Mengenai harga, dia ditawarkan lebih mahal ketimbang Honda CRF 150 L (Rp 34,45 juta). (Ano)