First Ride Yamaha E01: Ini Baru Motor Listrik yang Proper!

Yamaha E01 review


Cukup singkat waktu pengujian kami bersama Yamaha E01. Ditambah jarak tempuh mungkin tak sampai 15 kilometer. Meski begitu, karakter jalan di kawasan Pelangi Park, Bogor Jawa Barat yang jadi lokasi first ride lumayan merepresentasikan keadaan sesungguhnya. Mulai dari jalur menurun, menanjak, tikungan, dan sesekali melibas jalanan rusak.

Yamaha E01 disebut masih berupa konsep atau prototipe. Kendati demikian wujudnya sudah mengarah seperti motor produksi massal. Komponen wajib seperti lampu, spion, panel meter, hingga tatakan pelat nomor sudah tersedia. Lantas bagaimana impresi awal berkendara dari motor bebas polusi milik garpu tala ini? 

 

Desain

Yamaha E01 review

Sebelum jauh membahas rasa berkendaranya, kami awali lebih dulu dari desain. Sebab, visual E01 punya unsur unik dan boleh dibilang sesuai pasar Indonesia. Mengusung konsep 'Juxtaposed Design'. Ini sebuah filosofi dari Yamaha yang mengawinkan 2 elemen antara manusia (human) dan mesin (machine).

Lewat konsep ini, Yamaha coba menyajikan sesuatu yang berbeda dan belum pernah ditemukan pada sepeda motor listrik manapun. Tak salah jika mereka mengambil maxi skutik sebagai basis. Toh sangat diminati dan tema futuristik tengah jadi kegemaran, membuatnya jadi opsi terbaik.

Secara garis besar desainnya terinspirasi dari NMax. Mungkin karena desain NMax dianggap sebagai model yang sudah populer dan diterima masyarakat di seluruh dunia. Dia dominasi kelir putih dengan kombinasi warna hitam, ada pula aksen pemanis berwarna cyan atau biru muda.

E01 tampil dengan bahasa desain 'masa depan' namun tetap fungsional. 2 buah lampu utama berbentuk proyektor ditempatkan di bagian bawah. Sementara untuk penempatan dermaga isi daya baterai ada di bagian atasnya. Desain fascia ini membuat tampilan depan dari Yamaha E01 terlihat menarik. Coba lihat bagaimana desainer Yamaha sukses menyembunyikan port charging dengan sangat rapi. Di bagian itu diapit 2 buah DRL sekaligus sebagai indikator pengisian daya listriknya.

Identitas sebuah motor maxi jelas terlihat dari samping. E01 mengedepankan desain ergonomi, itu nampak dari layout pijakan kaki, setang lebar tinggi, dan bentuk jok yang juga lebar. Kedua peleknya dibenamkan ukuran besar , sehingga profil ban 110/70 R13 di depan dan 130/70 R13 digunakan sebagai size standar.

Mundur ke belakang, bagian ini yang jadi spot favorit saya. Bagian tubuhnya dibuat mengerucut dengan desain lampu rem dan sein yang dibuat minimalis. Coba perhatikan tata letak suspensi belakang gandanya, sengaja dibuat agak maju ke depan, ini sukses membuat tampilan bokong dari E01 seperti melayang.

 

Posisi Berkendara

Review Yamaha E01

Yamaha E01 memiliki panjang 1.930 mm, lebar 810 mm, tinggi motor di 1.190 mm, dan tinggi jok 775 mm. Dimensinya mirip Yamaha NMax. Untuk rider 175 cm dan berat badan 75 kilogram, kedua kaki tak bisa menapak dengan sempurna ke tanah. Gapnya memang tak terlalu jauh, alias tak terlalu jinjit. Masih ideal.

Sementara untuk layout pijakan kaki juga cukup lebar ditambah ada opsi selonjoran. Posisi segitiga berkendara antara tangan, bahu, dan kaki saya nilai pas. Pertama kali menaikinya jauh dari kesan kagok, bila sudah mengendarai NMax, rasanya hampir mirip.

Impresi awal menaiki E01 adalah karakter joknya yang empuk dan lebar. Jauh lebih nyaman ketimbang NMax, atau Lexi. Busa jok cukup tebal, bisa menyangga area bokong dengan cukup sempurna.

 

Performa

Yamaha E01 review

Untuk bagian ini, saya jawab secara lengkap. Seperti penjelasan di awal tadi, durasi waktu singkat dan trek yang pendek tak bisa mengeksplorasi lebih jauh motor bebas polusi ini. Namun sedikit besar impresinya tergambarkan.

Yamaha E01 dibekali baterai yang diletakkan persis di tengah bodi. Hal ini membuat motor jadi stabil dan mempermudah pengendalian saat diajak bermanuver. Jujur saja, ketika pertama kali menaikinya, saya rasakan mirip sekali dengan motor bermesin konvensional. Tak terlalu enteng dan terasa kokoh.

Dia dibenamkan baterai berkapasitas 4,9 kWh dengan jenis fixed menyuplai arus listrik ke motor listrik berukuran kompak yang dapat menghasilkan tenaga hingga 10,8 dk di 5.000 rpm dan torsi 30,2 Nm di 1.950 rpm. Keluaran tenaga tersebut disalurkan ke roda belakang melalui penyalur tenaga berjenis belt.

Di awal saya memilih mode berkendara Eco. Menyuplai tenaga sebesar 5,4 kw atau 7,2 daya kuda pada putaran mesin 4.500 rpm dan torsinya di 21,4 nm di puntiran 1.500 rpm. Ketika memutar tuas akselerator, E01 melaju dengan sangat smooth.

Dengan mode berkendara Eco, saya juga coba melewati jalanan menanjak. Motor masih bisa melibas tanjakan, tapi kuncinya harus menjaga momentum di awalan. Sebelum menuntaskan jalan menanjak itu, sebagai catatan laju motor jadi melambat.

Setidaknya jalur tanjakan yang ada di kawasan Pelangi Park, Bogor Jawa Barat cukup banyak namun berkategori tak ekstrem. Dengan opsi Standard bisa diselesaikan dengan aman, tenaga dan torsi lebih terasa dibanding opsi Eco Mode.

Barulah ketika memilih Power Mode, output keseluruhan benar-benar dibuka. Tenaga 10,8 daya kuda dan torsi 30,2 Nm bisa melahap tanjakan dengan sangat andal. Saya tak perlu memutar tuas akselerator dalam-dalam, E01 mampu menaklukan jalan tersebut.

Klaim dari Yamaha, kecepatan puncak dari E01 bisa digeber hingga 100 km/jam. Namun dengan situasi dan kondisi lokasi tes kemarin saya tak bisa membuktikannya. Masih dalam Power, paling tidak kecepatan yang saya dapat hanya 70-80 km/jam.

Yang menarik adalah karakter ketika membuka dan menutup tuas akselerator. Rasanya benar-benar mirip seperti motor bermesin konvensional. Ketika melewati jalanan menurun dan tak membuka akselerator terasa seperti ada engine brake yang menahan laju motor.

Efek engine brake itu berasal dari fitur Regenerative Braking. Ketika motor melaju dan tuas akselerator ditutup peranti Regenerative berfungsi otomotif untuk merubah energi kinetik menjadi listrik. Indikator fungsinya bisa dilihat di panel meter dengan simbol berupa transfer panah menuju baterainya.

Mungkin buat Anda yang lebih familiar dengan motor bermesin bensin, ketika mencoba E01 tak perlu adaptasi terlalu lama. Rasa, gaya, dan sensasinya sekali lagi mirip dengan motor ICE (Internal Combustion Engine).

Untuk kecepatan masing-masing mode berkendara, dari catatan saya untuk pilihan Eco bisa melaju hingga 47 km/jam, Standar sekitar 65 km/jam, dan Power karena trek yang minim kecepatan rata-ratanya 80 km/jam.

 

Handling dan Pengereman

Review Yamaha E01

Bagian ini yang paling saya suka dari E01. Handling motor listrik garapan Yamaha tersebut saya kategorikan mantap. Rasanya kokoh, stabil, empuk, dan bahkan lebih nyaman ketimbang NMax.

Yamaha E01 juga jadi motor listrik paling proper dari beberapa merek yang pernah saya coba. Suspensinya meredam getaran dan jalan rusak dengan sangat baik, sesekali melibas polisi tidur dengan speed 30 km/jam juga tak terlalu terguncang.

Ketika melibas tikungan, distribusi bobotnya pas sehingga terasa stabil dan percaya diri. Komposisi ban lebar juga berdampak pada keseimbangan handling yang positif dari motor ini.

Sementara untuk sektor pengereman, Yamaha E01 dibekali dengan cakram tunggal pada bagian roda depan dan belakangnya. Lagi-lagi karakter brake-nya persis motor konvensional. Keseluruhan tuas rem terasa empuk dan pakem. Semakin aman, karena pengereman dari Yamaha E01 sudah ditopang dengan peranti ABS (Anti-lock Braking System) pada kedua rodanya.

 

Fitur dan Akomodasi

Yamaha E01 review

Salah satu fitur yang saya coba adalah kontrol traksi atau TCS (Traction Control System). Peranti inI berfungsi dengan baik ketika sensor membaca adanya putaran ban belakang berlebih yang berlebih. Dia aktif ketika motor digeber di jalanan sedikit licin misalnya pasir atau bekas guyuran hujan.

Pengereman ABS juga responsif. Ketika tuas rem ditekan secara maksimal potensi mengunci pada roda depan dan belakang tidak akan terjadi. Ini tentunya berkaitan dengan unsur keselamatan dan keamanan.

Dibekali penerangan full LED, power outlet, panel meter full digital, teknologi konektivitas Y-Connect, dan Reverse Mode untuk mundur lebih mudah. Urusan akomodasi, memiliki 2 kompartemen dengan penutup di sisi kiri dan kanannya. Di bagian kanan jadi tempat dermaga isi ulang gawai, masih ada space untuk menaruh ponsel.

Sementara bagasi utama jadi tempat penyimpanan charger portable. Ini yang saya suka, tata letaknya dibuat rapi dan tidak asal-asalan seperti merek motor listrik asal China. Ketika charger portable diangkat, ruang bagasi jadi lebih besar bahkan bisa menampung 1 buah helm half face dengan posisi yang perlu disesuaikan.

 

Metode Pengisian Baterai

Review Yamaha E01

Ada 3 metode yakni Fast Charging yang dapat melakukan pengisian dari nol sampai 90 persen hanya dalam waktu 1 jam. Kemudian Normal Charging (200-240V) yang memakan waktu 5 jam.

Dan terakhir pengecasan portable yang membutuhkan waktu 14 jam untuk mengisi ulang baterai sampai penuh. Menurut keterangan Yamaha, daya listrik rumahan 1.300 watt juga mampu menyuplai daya baterai E01 dengan catatan mencoloknya ke kontak listrik secara tunggal (tidak pakai terminal atau digabungkan dengan casan lain). (Kit/Odi)

 

Baca Juga: First Ride Yamaha Fazzio Hybrid

Jelajahi Yamaha E01

Model Motor Yamaha

Motor Yamaha
  • Yamaha Nmax
    Yamaha Nmax
  • Yamaha XSR 155
    Yamaha XSR 155
  • Yamaha Gear 125
    Yamaha Gear 125
  • Yamaha Lexi
    Yamaha Lexi
  • Yamaha MX King
    Yamaha MX King
Baca Semua

Artikel Unggulan

Motor Yamaha Unggulan

  • Yang Akan Datang

Bandingkan & Rekomendasi

Tren Scooter

  • Yang Akan Datang

Artikel Motor Yamaha E01 dari Oto

  • Berita
  • Road Test