4 Mercedes-Benz Berpintu Gullwing, Melegenda dan Terus Berevolusi

Model ikonik Mercedes-Benz tak hanya tiap varian yang telah eksis selama puluhan tahun. Inovasi pintu mengangkat ke atas atau diistilahkan Gullwing, turut melegenda. Namanya sendiri mengisyaratkan desain pintu terbuka ke atas bak sayap burung camar. Melekat sebagai panggilan sayang 300 SL dari era 1950-an. Mungkin sebagian hanya mengenal dua versi Mercedes-Benz dengan desain ikonik ini lewat adaptasi modern di SLS. Tapi ketika melirik sejarah, setidaknya ada empat model berpintu burung camar yang dilahirkan.


300 SL


Mercedes SL


Kiprah Gullwing bermula dari pengembangan mobil balap 300 SL W194. Dibuat khusus pada 1952 yang kemudian merajai berbagai sirkuit dari Le Mans, Bern, Nürburgring. Tak terkecuali pertarungan endurance Carrera Panamericana di Meksiko 1952. Membuatnya unik adalah rangkaian sasis tubular yang mau tidak mau mengadaptasikan pintu membuka ke atas sebagai kompromi atas rigiditas rangka.


Versi jalan raya pun kemudian lahir atas permintaan importir Mercedes-Benz di AS, Maximilian Hoffman. Adalah 300 SL W198 yang dipajang pada International Motor Sports Show di New York Februari 1954. Dikebut, hanya menghabiskan waktu satu setengah tahun dalam proses melahirkan keturunan sang bandit sirkuit. Pintu gullwing yang kurang praktis tetap diadopsi meski sudah diadaptasikan agar lebih sopan dan elegan untuk penggunaan jalan raya.


Namun setidaknya untuk urusan pemakaian dibuat lebih bersahabat dan sudah disempurnakan. Karburator mesin enam silinder segaris 3.000 cc M194 diganti ke unit injeksi mekanikal. Mengisi tonggak pencapaian pabrikan sebagai model produksi pertama dengan sistem injeksi bensin. Atas ubahan ini outputnya ikutan meningkat dari 173 hp di versi balap pertama menjadi 212 hp.


Hanya sekitar 1.400 unit diproduksi dari fasilitas Sindelfingen, Jerman selama tiga tahun (Agustus 1954 - Mei 1957). Termasuk di dalamnya 29 versi bodi alloy ringan dan satu eksperimen bertubuh plastik. Keterbatasan jumlah edar dan desain ikonik menjadikannya salah satu mobil klasik paling diburu. Harganya kini bisa selangit. Melansir Hagerty, harga pasaran berkisar antara 713.400 – 1.066.000 Poundsterling atau sekitar Rp 13,7 – 20,5 miliar tergantung kondisi.


C 111


Mercedes C 111


Begitu masa 300 SL “Gullwing” selesai, pabrikan tidak langsung melahirkan penerus identik. Kendati begitu, namanya terus hidup dilanjutkan keluarga SL sebagai roadster cantik nan ringan. Tapi bukan berarti gaya nyentrik dan potensi tinggi dilupakan. Pada 1969 C 111 tampil memukau di gelaran Frankfurt International Motor Show. Profilnya rendah bak Ford GT40, dikelir cat oranye, dan tak ketinggalan menganut pintu gullwing.


C 111 memang tidak terlahir sebagai mobil produksi massal. Ia justru memerankan laboratorium berjalan untuk bantu mengembangkan teknologi mutakhir. Pertama dipakai untuk menguji mesin Wankel atau lebih dikenal sebagai unit rotary seperti dipopulerkan oleh Mazda. Versi pertama dijebloskan enjin 3 rotor dengan output 284 PS dan kemudian berganti ke versi 4 rotor sekuat 350 hp. Figur potensi sangat impresif untuk ukuran 1969. Sanggup menuntas akselerasi ke 100 kpj dalam tempo 4,8 detik lalu terus berlari hingga 300 kpj.


Sebuah proyek ambisius untuk menguji mesin piston berputar ini. Terbukti dari 15 varian, 11 di antaranya menggendong unit rotari. Namun akibat dihadang masalah konsumsi bahan bakar dan emisi, pengembangannya distop awal 1976.


Tidak itu saja, pengembangan teknologi diesel dan bensin pun turut menjadi fokus mereka di 1970-an. Mereka ulik lagi potensi unit 5 silinder diesel sehingga datang dua versi berkekuatan 190 hp dan 230 hp. Terakhir di 1979 lahir versi buas dengan segala revisi rancangan dan mesin. Kapasitas pembakaran unit V8 4.500 cc didongkrak menjadi 4.800 cc dan sanggup melontarkan 500 hp. Bayangkan ekstraksi 500 hp di 1979, untuk standar sekarang saja masih terbilang besar.


Laboratorium berwujud supercar ini pun tidak hanya menjadi alat eksperimen mesin. Tubuhnya turut dipakai untuk dipakai menguji berbagai elemen lain. Termasuk di dalamnya pop-up headlamp, material komposit, dan tak ketinggalan pintu gullwing - merupakan karya dari sang desainer legendaris Bruno Sacco. Desainnya memang sangat unik dan boleh dibilang melampaui masanya. Bahkan, disebutkan banyak orang mengirimkan cek kosong saat pertama mendebut di Frankfurt lantaran begitu diminati. Yang jelas segala hasil pengujian ini menjadi bahan untuk pengembangan produk di generasi setelahnya.


C 112


mercedes C112


Jenis pintu gullwing lainnya terwujud dalam tipe C 112 pada 1991. Posisi kubah kabin condong ke depan, lubang intake menganga di samping sangat mengisyaratkan keturunan dunia balap. Memang inspirasinya diambil dari kontestan World Sports-Prototype Championship 1990 yakni Mercedes-Benz C 11. Dikembangkan dari dunia balap, seolah cerita C 112 kembali mengingatkan bagaimana gullwing pertama lahir.


Tapi kenyataannya tidak demikian, C 112 hanya sebatas prototipe studi. Sesuai rancangan, ia dibekali pemacu berkekuatan tinggi. Mesin V12 6.000 cc ditanam ke tengah demi menciptakan dorongan sekuat 402 hp. Di samping itu, melekat pula inovasi sehingga dapat dinikmati seri produksi di tahun berikutnya.


Yep, bukan prototipe untuk gaya dan performa saja. C 112 memainkan peran penting dalam evolusi kecanggihan pabrikan, salah satunya kehebatan suspensi Mercedes-Benz. Pertama di dunia, ia menampilkan suspensi aktif bernama Active Body Control (ABC) yang diaplikasikan ke CL Coupe pada 1999. Sistemnya berfungsi mereduksi getaran dan gerakan bodi saat menikung atau mengerem. Selain itu, C 112 turut membawa Distronic proximity control untuk menghadirkan teknologi seperti cruise control adaptif.


SLS AMG 


mercedes SLS AMG


Satu-satu evolusi paling kental “Gullwing” orisinal lahir dari divisi performa pabrikan, Mercedes-AMG, meluncur 2010. Adalah SLS AMG, menandakan bangkitnya jiwa 300 SL sebagai wakil performa tinggi dan tentunya mengadopsi teknologi mutakhir. Bukan hanya interpretasi gaya gullwing, setidaknya ada kesamaan ke versi penyempurnaan W194 di 1953 dengan transaxle – transmisi terpisah di bagian poros.


Rancang bangun diutamakan untuk meringankan bobot sekaligus mempertahankan rigiditas. Persis seperti 300 SL dilahirkan, sasis tubular berbahan baja nan kompleks dimanfaatkan demi kekakuan sasis. Bedanya, SLS AMG memanfaatkan aluminium space frame nan ringan sekaligus kokoh. Juga panel eksterior mengusung material serupa. Saat itu mungkin belum menjadi suatu hal lazim menyoal rancang bangun aluminium, baru diadopsi sebagian kecil model.


Yang disiapkan darinya selain rangka ringan dan balans handling berkat transaxle jelas terletak di balik bonnet. Adalah unit V8 6.200 cc berkode M159 bekerja mandiri tanpa sokongan pemadat udara. Digadang sebagai mesin naturally aspirated paling powerful dalam seri produksi. Dalam versi konvensional, jantungnya sanggup mengail tenaga sampai 583 hp. Lain cerita di model Black Series, lontaran tenaga bisa mencapai 622 hp.


Pun bukan hanya mengandalkan motor bakar saja, diboyong pula kontestan bertenaga listrik. Diberi nama SLS AMG Coupe Electric Drive, perbekalannya sanggup melontarkan tenaga sampai 751 PS. Sebagaimana EV dalam bungkusan sports car sekaliber SLS tentu disokong torsi buas, diklaim sekuat 1.000 Nm. Semua berasal dari empat motor listrik dengan prestasi akselerasi ke 100 kpj tuntas dalam tempo 3,9 detik. Ia datang sebagai realisasi eksperimen SLS AMG E-Cell dan diproduksi dalam skala kecil.


Adaptasi Gullwing di Merek Lain


Nama “Gullwing” mungkin cukup identik dengan 300 SL sebagai model orisinal berpintu sayap. Dramatis menyuarakan kesan eksotis meski saat itu boleh jadi mau tidak mau dipakai. Sejak pertama dikenalkan 300 SL, pabrikan lain tampak ikut mengadaptasikan desain serupa. Terutama para supercar gahar seperti De Tomaso Mangusta, Gumpert Apollo, Apollo IE, dan Pagani Huayra. Tak ketinggalan eksis pula di Delorean DMC-12, Autozam AZ-1, hingga Tesla Model X. (Krm/Odi)


Sumber: Daimler

Artikel yang direkomendasikan untuk anda