Kisah Kejayaan Die Rote Sau, "Si Babi Merah" Cikal Bakal Berdirinya Mercedes-AMG

die rote sau

Mungkin sebagian – terutama para fanatik Mercedes-Benz – cukup familiar dengan nama AMG. Bagaimana tidak, saat ini mereka merupakan salah satu divisi performa paling kesohor asal Jerman. Bertanggung jawab atas kelahiran model brutal berlogo Three Pointed Star. Tapi untuk diketahui, AMG tidak mengawali kiprahnya sebagai divisi performa.

 

Bermula dari Hasrat Dua Pria Eks Teknisi Mercedes-Benz

die rote sau

Semua berawal dari perusahaan spesialis pengembang mesin balap. Adalah “Aufrecht Melcher Großaspach Ingenieurbüro, Konstruktion und Versuch zur Entwicklung von Rennmotoren” (“Perusahaan Teknik, Desain, dan Pengujian untuk Pengembangan Mesin Balap Aufrecht Melcher Großaspach”) bentukan eks teknisi Mercedes-Benz, Hans Werner Aufrecht dan Erhard Melcher pada 1967. Nama segitu panjang lebih singkat dikenal sebagai AMG yang diambil dari nama penemu Aufrecht dan Melcher dan desa Großaspach (Grossaspach) – rumah Aufrecht, tempat awal keduanya mengembangkan mesin balap.

Yep, eks teknisi Mercedes-Benz. Lebih tepatnya, awal 1960-an sebelum perusahaan terbentuk, mereka menggarap mesin balap 300 SE sasis W112. Merupakan bagian pekerjaan dalam Departemen Pengembangan Daimler-Benz hingga pabrikan menghentikan segala aktivitas motorsport. Namun hasrat mereka tak lantas mati, keduanya lanjut berkarya pada waktu senggang dengan mesin tersebut.

die rote sau

Aufrecht dan Melcher dongkrak tenaga dan mengotak-atik saloon besar 300 SE yang lebih kita kenal sebagai “Mercy Batman”. Kerja keras mereka pun membuahkan hasil. Mesin racikannya sukses mendominasi German Touring Car Championship dengan sepuluh kemenangan pada 1965. Mulai dicari pembalap lain untuk menggarap mesin balap, dari situ kemudian AMG terbentuk.

Kejayaan di sirkuit membuat nama AMG perlahan didengar. Reputasinya jelas terbukti dan kemudian masuklah mereka ke era penyempurnaan berbagai model Mercedes-Benz. Obat kuat untuk mesin Mercedes, baik itu SL, SLC, hingga S-Class diracik. Modifikasi segera berlanjut ke bagian transmisi, suspensi, dan pengereman.

Model kelas menengah yang lebih ekonomis, W114, ikut dilirik. Unit mengaspal 1968, AMG pilih mesin enam silinder tipe 250 untuk dioprek. Ekstraksi orisinal 130 hp didongkrak menjadi 155 hp pada fase pertama. Kemudian ditambah lagi 10 hp lewat pembesaran ruang bakar dari 2.500 cc jadi 2.800 cc berikut sentuhan pada kop silinder dan sistem pembuangan. Sampai terakhir berhasil melontarkan 200 hp berkat pemanfaatan sistem injeksi.

Baca Juga: 4 Mercedes-Benz Berpintu Gullwing, Melegenda dan Terus Berevolusi

 

Si 'Babi Merah' Datang Sebagai “Alien” yang Memukau Penonton

die rote sau

Kegilaan AMG kemudian memuncak pada 1971. Mereka turunkan petarung bertubuh gambot nan panjang untuk adu ketangkasan dan kecepatan di ajang 24 Hours of Spa. Dalam Sirkuit Spa-Francorchamps, Belgia itu kontestan AMG jelas bak alien atau orang luar. Paling nyeleneh sebab mayoritas lawan berikut jadi unggulan banyak penonton adalah model sports car bertubuh ringan. Melegenda juga, sebut saja Ford Capri RS, BMW 2800 CS, Chevrolet Camaro, Opel Commodore, dan Alfa Romeo GTA.

Di lain sisi, petarung AMG justru merupakan sebuah sedan flagship. Cikal bakal Mercedes-Benz S-Class, tentu terbayang akan kemewahan bukan malah jadi pengukir aspal sirkuit. Apalagi ia memiliki tubuh ekstra panjang dengan keleluasaan legroom belakang berbasis model 300 SEL 6.3. Tergambar sebagai kendaraan pejabat tinggi, saudagar kaya, atau diktator. Sangat tidak identik dengan dunia balap.

Tapi memang bukan sekadar S-Class biasa sebab yang mejeng merupakan sedan terkencang di zamannya. Well, sebelum digarap AMG saja sudah mampu gelontorkan output 250 hp dengan top speed 220 kpj dari mesin V8 6.300 cc. Tapi tentu tidak dibiarkan standar. Dimodifikasi sedemikian rupa, menandakan awal identitas brutal AMG saat ini.

die rote sau

Ruang bakar diperbesar hingga mencatatkan displacement 6.800 cc. Metode klasik lantas dijabani Melcher. Jeroan dirombak total dengan menjebloskan high-precision camshaft, pelatuk klep modifikasi, setang piston ringan, piston Mahle, memperbesar katup intake, hingga sentuhan pada ruang bakar dan memoles jalur udara. Belum lagi dibarengi ubahan pada komponen mesin lain demi meringankan napas sekaligus meningkatkan ketahanan.

Membuatnya terlihat istimewa, bodi berkelir merah disudahi roda lebar dan sepatbor melar. Tidak heran bila akhirnya dijuluki sebagai “die Rote Sau” atau “Babi Merah”. Sepatu magnesium superlebar diambil dari prototipe C111. Dibarengi pula penguatan sektor kaki-kaki plus gardan lebih kokoh. Diet pun dijalani dengan memanfaatkan panel pintu aluminium. Tapi menariknya, nuansa mewah dalam kabin tidak benar-benar dihilangkan. Bayangkan, masih ditemukan panel kayu eksotis, doortrim, karpet, power steering, bahkan air suspension. Masih bisa dibuat mewah meski performa didongkrak habis sampai sulit dikalahkan.

Tidak ada yang menduga namun sedan merah besar ini ternyata bisa memulai balapan di posisi 5 dari 60 pembalap. Mengekor di belakang model favorit seperti Chevrolet Camaro, Alpina-BMW 2800 CS, Ford Capri, dan Schnitzer-BMW 2800 CS. Sontak mencuri perhatian penonton. Bahkan di putaran pertama, pilot Hans Heyer, langsung membawanya ke posisi ketiga. Mengekor Ford Capri dan Chevrolet Camaro.

Dengan torehan output 428 hp/608 Nm dan kecepatan puncak 265 kpj, Mercedes-Benz 300 SEL 6.8 AMG sulit dikalahkan. Sensasional dan karakteristiknya pas untuk sirkuit berkecepatan tinggi sepanjang 14,1 km seperti Spa. Dengan rem standar yang jadi salah satu kekurangan, 300 SEL racikan AMG sukses menyelesaikan 308 km selama 24 jam. Jadi juara di kelasnya berikut menempati posisi kedua secara keseluruhan. Impresif, diklam tidak mengalami permasalahan teknis sama sekali.

Kesuksesan ini membuat AMG menjadi selebriti otomotif dalam semalam. Reportase sensasional dan impresif menyelimuti namanya. Well, ide gila Aufrecht dan Melcher tak sia-sia. Selanjutnya, si Babi Merah dibawa berkompetisi ke ajang endurance lain. Termasuk di dalamnya balap 2x6 jam di Sirkuit Paul Ricard, 24 Jam Nürburgring, dan Nuremberg 200-mile di Norisring. Hampir pula ia berlaga di Le Mans 24 Jam.

Sayang, kiprah 300 SEL 6.8 AMG harus berakhir lantaran perubahan regulasi Fédération Internationale de l'Automobile (FIA). Kapasitas mesin dibatasi sampai 5.000 cc saja untuk dapat berpartisipasi European Touring Car Championship di masa selanjutnya. Mau tidak mau, si Babi Merah harus dipensiunkan.

Namun tak kalah menarik cerita setelah karirnya berakhir. Ia dijual ke konglomerasi asal Prancis, Matra. Tidak lagi bertugas sebagai mobil balap namun tetap berkaitan dengan kecepatan: dikonversi sebagai alat pengujian kecepatan tinggi ban pesawat. Nasib setelahnya tidak diketahui hanya saja Mercedes-AMG membuat replika di 2006 sesuai desain orisinal untuk melanjutkan kisah suksesnya.

 

Kelanjutan Perjalanan AMG Sampai Jadi Divisi Performa Mercedes-Benz

die rote sau

AMG pun semakin terkenal seiring perkembangan perusahaan dan regenerasi model Mercedes-Benz. Setelah merombak mesin, pada awal 1970-an bisnis berevolusi dengan layanan kustomisasi. Tidak ada yang tidak mungkin sebagaimana sebuah perusahaan modifikasi pada umumnya. Terus berkembang dari perusahaan lokal hingga melayani klien luar negeri. Pada 1976 mereka akhirnya menempati markas di Affalterbach, Jerman.

Inovasi terus berlanjut, AMG lantas disebut jadi pabrikan pembuat mesin pada 1984. Pasalnya, Melcher kembangkan kop silinder khusus dengan empat klep per silinder. Juga kegilaan tak berhenti seperti kelahiran sang ikon AMG Hammer pada 1986. Yakni E-Class Coupe generasi 124 yang ditanamkan mesin V8 5.000 cc. Akhir 1980-an Daimler-Benz dan AMG mulai bekerja sama sebagai rekanan balap resmi. Tipe 190 buatan mereka jadi awal kehebohan pertarungan DTM dengan dukungan dari pabrikan.

Penyelesaian kontrak kerja sama dengan Daimler-Benz AG pada 1990 merupakan batu lompatan sebenarnya. Meningkatkan kepercayaan konsumen dan kredibilitas sebab produk AMG dapat dijual dan dirawat pada seluruh jaringan Mercedes-Benz. Hadir pula model kolaborasi pertama mereka, C 36 AMG. Baru pada 1999, Hans Werner Aufrecht memberikan mayoritas kendali kepada DaimlerChrysler AG dan 2005 DaimlerChrysler mengakuisisi 100 persen sahamnya. Terbentuklah Mercedes‑AMG GmbH seperti AMG yang saat ini dikenal sebagai divisi performa.

 

Kesuksesan si 'Babi Merah' Dirayakan dengan Tiga Model Spesial

die rote sau

Lima puluh tahun berlalu sejak Rote Sau membuat sensasi di gelaran 24 Hours of Spa 1971. Pada kompetisi tahun ini, Mercedes-AMG luncurkan tiga mobil balap “50 Years Legend of Spa” sebagai bentuk penghormatan. Sangat terbatas, hanya ada satu Mercedes-Benz SLS AMG GT3, satu Mercedes-AMG GT3 (MY 2016), dan satu lagi Mercedes-AMG GT3 versi termutakhir. Semua mengusung livery orisinal milik 300 SEL 6.8 AMG.

Setiap model disudahi interior gelap dengan finishing Graphite Metallic Matt berikut sebaran permukaan serat karbon. Menunjukkan keistimewaan, plakat hari jadi komplet tanda tangan penemu AMG, Hans Werner Aufrecht, ditempel ke dasbor. Di samping itu, ketiga mobil ini tidak dibatasi homologasi FIA. Memungkinkan nyanyian lebih lepas dari unit V8 6.300 cc AMG sekaligus produksi tenaga maksimal sampai 650 PS.

Cukup menarik dari ketiganya adalah Mercedes SLS AMG GT3 dan AMG GT3 2016. Keduanya dibangkitkan kembali khusus untuk merayakan setengah abad legenda Spa. Khusus SLS “Gullwing”, ia dibuat dari cangkang bodi terakhir yang tersimpan di pabrik Mercedes-AMG. Yep, bukan dari model lama mengingat sudah tidak diproduksi sejak 2015. Sementara itu, AMG GT3 2016 merupakan contoh sasis ke-100.

Unik dan sangat terbatas tentu tidak akan murah. Bayangkan saja, hanya ada satu model otentik dengan banderol selangit. SLS AMG GT3 dilego 650 ribu Euro atau sekitar Rp11,1 miliar; 2020 GT3 sekitar Rp9,9 miliar (575 ribu Euro); dan GT3 dari 2016 seharga Rp8,6 miliar (500 ribu Euro). Seperti versi balap, mereka dijual dengan ban slick tidak beralur. Ketiganya pun mejeng di gelaran 24 Hours of Spa tahun ini. (Krm/Odi)

 

Sumber: Daimler, Carscoops, Drivetribe

Baca Juga: Perjalanan 4 Generasi Mercedes-Benz “Cibo” di Indonesia

Baca Semua

Artikel Unggulan

Artikel yang direkomendasikan untuk anda

Baca Semua

Mobil Mercedes Benz Unggulan

Artikel Mobil Mercedes Benz dari Oto

  • Berita
  • Artikel Feature
  • Road Test