Pikir-pikir Dulu Jika Hendak Beli Skutik Ini, Pertimbangkan Subtitusinya

Produk turunan dari satu manufaktur motor melahirkan berbagai macam jenis skutik. Demi membuat konsumen leluasa memilih sosok paling pas. Tapi, rasanya terlalu banyak pun bukan melulu sebuah keunggulan. Seperti deretan skutik ini. Baiknya, pikir dua kali jika hendak membeli, sekaligus kami sajikan rekomendasi pengganti.


Keluarga Yamaha Mio Bisa Diganti Peran Oleh Gear 125


Keluarga Yamaha Mio hampir tidak menarik lagi. Memang banderolnya di bawah rata-rata, tapi itu pun tak benar-benar jauh. Dan terlalu usang untuk dimiliki. Penampilan bak datang dari satu dekade ke belakang. Belum lagi soal kelengkapan fitur tak hebat-hebat amat.


Semisal Mio S, hingga saat ini Yamaha masih menjualnya. Paling tidak jika dilihat dari laman resmi. Entah dalam rangka memberi opsi, atau memang sedang menghabiskan stok. Sebab, dengan nilai jual Rp16,9 juta OTR Jakarta ia tak menarik lagi jika dibandingkan saudaranya, Gear. Tanggung.


Memang ia sudah punya beberapa perangkat modern. Seperti pencahayaan utama LED, answer back system, hazard dan lainnya. Tapi itu masih terbilang kurang. Sama halnya Mio M3 seri standar maupun AKS SSS. Perbekalan fiturnya tidak lebih menarik. Apalagi melihat harganya tak jauh-jauh, Rp16,35 juta – Rp17,27 juta OTR Jakarta. Satu-satunya perbekalan modern hanyalah headlight LED dan Stop Start System (SSS). Serta agak leluasa soal kapasitas bagasi, meski sama saja tak masuk helm. Desainnya juga terlalu konservatif buat hari ini. Kurang menggugah.


Perihal mesin, ketiganya ada dalam satu basis. Jadi tak perlu ragu soal tampilan Gear yang mungil. Toh menerjemahkan tenaga kurang lebih sama. Tepatnya menggunakan platform 125 cc, hanya beda pada sistem starter. Padanan dapur pacu square itu memiliki kompresi 9,5:1, dengan output 9,3 Hp di 8.000 rpm dan torsi 9,5 Nm pada 5.500 rpm. Cukup buat menghela bobot 95 kg – 96 kg. Lantas soal deselerasi, identik pakai paduan cakram dan tromol.


Gear bisa merangkum tiga motor tadi dengan harga bersinggungan (Rp16,750 juta – Rp17,350 juta). Ia mampu menawarkan lebih banyak. Di varian standar, sudah ada electric power socket. Terletak di sisi kiri laci, itu pun bisa tambah aksesori penutup kalau mau. Sistem starter pun sudah SMG, alias membisukan suara ketika menyalakan mesin.


Yamaha Gear 125


Apalagi seri tertinggi. Di samping fasilitas disebut tadi, ia mendapat remote answer back system. Plus Stop Start System (SSS) untuk mengefisiensi bahan bakar. Ya, sistem yang sama seperti di skutik lain. Mematikan mesin otomatis waktu idling beberapa detik.


Dari segi fungsionalitas pun begitu. Gear menawarkan konstruksi unik, sehingga memudahkan pengendara dalam mengakomodir barang, bahkan penumpang. Dari mulai area dek, dibuat rata lantai. Ada pun opsional foot step tambahan jika hendak memperluas lebar pijak kaki. Hook juga diletakkan pada bagian bawah jok dan depan. Praktis untuk bawa barang.


Lucunya, Yamaha turut memperlebar sisi pijakan belakang. Sekaligus naik ke atas posisinya. Dimaksudkan untuk penumpang anak kecil agar kaki bisa tersangga baik. Jangan khawatir, untuk orang dewasa pun tetap disediakan footstep yang bisa dilipat.


Agak lain cerita kalau Anda berniat membawa pulang keturunan Mio lain, All New Soul GT. Varian bawah dibanderol Rp17,3 juta sementara seri tinggi Rp17,8 juta OTR Jakarta. Agak sepantaran dengan Gear sebetulnya. Tapi ada hal tak bisa didapat pada skutik baru itu, ruang bagasi.


Ya, kapasitas bersihnya mencapai 14-liter. Agak jauh dibandingkan Gear maupun Mio Z dan M3. Karena itu helm half face standar masih bisa disembunyikan di balik jok. Tidak perlu khawatir kehujanan atau kemalingan ketika digantung pada area luar.


Kalau sisanya, sebetulnya standar saja. Belum ada answer back system, atau teknologi terkini seperti Gear. Tapi perihal Stop Start System (SSS) sudah disediakan di seri tinggi. Plus penerangan dari dioda. Secara bentuk, ia pun cukup futuristik ketimbang yang lain. Berikut sporty dan begitu maskulin.


Suzuki Nex II Sekadar Stylish, Kemampuan Address Lebih Baik


suzuki nex II


Ketika masuk ke diler Suzuki, melihat Suzuki Nex II dan Address, secara spontan tampilan Nex pasti lebih memikat. Setidaknya ia memiliki lekuk stylish, meski bentuknya agak tak lazim. Sekaligus punya pewarnaan a la skutik modern.


Harganya juga lebih murah dari Address. Tapi hanya sedikit, yakni Rp16,5 juta – Rp17,2 juta OTR Jakarta. Selisih beberapa ratus ribu. Menurut kami, rasanya menambah budget sedikit rasanya lebih layak. Terutama saat kita bandingkan kemampuannya.


Ya, selain headlamp LED dan soket USB tak ada lagi bisa disombongkan. Perlengkapan Nex benar-benar fundamental semata. Untuk motor sekarang rasanya terlalu konvensional. Kokpit sepenuhnya analog dengan informasi seadanya. Berikut tak tersedia Stop Start System atau sejenisnya. Bahkan, bagasi juga sempit.


Address masih lebih mumpuni di nilai segitu. Meski sesungguhnya fitur elektronik kurang lebih serupa. Namun ada satu hal tak bisa diberikan Nex II, bahkan merek lain yang sepantar: Bagasi superbesar. Ya, kapasitas tampung mencapai 20,6-liter. Artinya jauh di atas rata-rata, hampir menyentuh angka skuter Maxi. Jangankan helm half face, helm full face tipe tertentu muat di dalam sana. Lantas dari segi harga pun masih kompetitif, mulai Rp17,3 juta – Rp17,8 juta OTR Jakarta. Sewajarnya nilai jual entry level.


Suzuki Address


Ia turut dikemas dalam ragam pilihan kelir. Total ada sepuluh. Empat di antaranya memiliki finishing matte, yakni Stellar Blue, Summer Red, Fibroin Grey, serta Titanium Silver. Sementara yang glossy ada enam opsi: Macho Bright Blue, Majestic Gold, Aura Yellow, Stronger Red, Luminous Orange dan Hyper Pink. Mayoritas komposisi warna ini jarang ditemukan di merek lain.


Memang, desain cenderung konservatif meski masih enak dilihat. Suzuki pun tak memberikan basa-basi fitur elektronik melimpah. Panel instrumen saja masih full analog. Perihal power outlet, Idling Stop System, lampu LED dan lain sebagainya pun absen.


Kalau dapur pacu, kurang lebih sama. Tidak kekurangan. Memangku mesin 113 cc SOHC overstroke, mencatat output 9,3 Hp. Sementara kapasitas bahan bakar terbilang besar, 5,2 liter. Tenang, walaupun tampak gendut, beratnya cuma 95 kg. Harusnya tenaga segitu cukup-cukup saja.


Yamaha Fino Cenderung Membosankan Ketimbang Honda All New Scoopy


Yamaha Fino 2021


Cukup disayangkan – walau telah lama tak berganti wujud – munculnya Fino tema baru kemarin tak seiring penambahan fitur. Mengingat Scoopy sudah naik kelas dengan segala kecanggihan dan operasi jantung besar. Belum ada update apapun apalagi menyentuh teknis. Padahal secara harga (Varian tinggi) tak bisa dibilang jauh lebih murah dari Scoopy. Malah sedikit bersinggungan.


Satu-satunya figur menarik dari skutik retro milik pabrik logo garpu tala ialah jantung pacu. Ini lebih baik dari milik Scoopy, malah boleh dibilang signifikan di kelas entry level. Menggendong amunisi satu silinder 125 cc, menghasilkan output 9,38 Hp/8.000 rpm dan torsi 9,6 Nm/5.500 rpm. Cukup bertenaga.


Di Fino versi Grande (tertinggi), mesin ini juga berpadu dengan Start Stop System yang berfungsi saat posisi idle selama 5 detik. Hal ini tentu membantu mengefisiensi konsumsi bahan bakar. Mesin besar, dikombinasikan tangki bahan bakar yang sudah besar pula. Ia sanggup menelan 4,2-liter bensin alias setara dengan sang rival.


Nah, perihal fitur menjadi poin kekurangan Fino. Di versi mahal sekalipun, kuncinya konvensional. Hanya berbekal shutter key untuk pengaman. Berbanding jauh dengan Scoopy, yang memiliki anti-theft alarm, malah sekarang disediakan kunci pintar. Barang-barang seperti soket pengisi gawai dan panel instrumen berinformasi lengkap juga masih absen.


Honda scoopy


Sang rival kini mempersiapkan amunisi lebih matang. Tidak dapat dipungkiri – dengan harga bersinggungan – pamor Honda Scoopy pasti lebih besar. Rasanya agenda meracik ulang Fino perlu disegerakan jika mau mengimbangi. Pasalnya, Honda benar-benar memperbaharui dengan konsep jauh lebih sempurna.


Pertama, perihal desain. Honda menerjemahkan nuansa retro lebih kental pada generasi All New Scoopy. Bentuk serba bulat menempel di tubuh. Dari fender, mika stop lamp, samping, hingga lampu utama. Belum lagi ia memancar cahaya lewat lensa proyektor, bukan reflektor. Makin terlihat modern. Selain itu perubahan gurat membuatnya makin proporsional. Plus dikombinasi ban 12 inci khas skuter negeri kaukasia.


Model panel instrumen diubah total. Ada kesamaan konsep memang, yakni memadukan penunjuk analog dan digital. Namun Format angka, grafis dan bentuknya berubah. Layar kecil juga lebih modern, sekaligus mampu menampilkan menu komplet. Ada penambahan informasi yang cukup krusial. Scoopy generasi baru turut menampilkan konsumsi bahan bakar rata-rata dan real time, membantu pengendara mengetahui perilaku berkendaranya.


Transisi ke rangka eSAF turut berhasil membuat bobot Scoopy berkurang. Tadinya hampir 100 kg, sekarang tipe standar hanya 94 kg dan yang pakai smart key 95 kg. Memang tidak sesignifikan Beat dan Genio yang bisa menahan angka berat di kisaran 89 kg – 90 kg. Tapi rasanya selisih 4 kg pun bakal lumayan terasa. Berikut mestinya punya impresi ketangkasan dan kenyamanan mirip saudara-saudaranya.


Dari mulai lampu LED proyektor, answer back system, soket daya, sampai Idling Stop System (ISS) menjadi perangkat bawaan. Adapun penyempurnaan soket daya. Di dalam konsol kiri, dulu Anda memerlukan konektor untuk bisa mengisi baterai gawai. Kini, keluhan sederhana itu didengar pihak produksi. Dan akhirnya diterjemahkan-lah jenis soket USB, supaya tak repot lagi beli penghubung kabel. Tinggal aplikasikan lewat kabel bawaan ponsel saja.


Khusus varian Fashion dan Sporty baru mendapat remote anti-theft dan answer back system. Kalau menambah beberapa ratus ribu rupiah untuk varian atas, Anda bakal dimanjakan dengan sistem kunci pintar. Jenisnya sama persis dengan milik Vario 150. Alias tinggal mengaktifkan kenop untuk menyalakan mesin, sementara kunci bisa dikantongi. (Hlm/Odi)

Artikel yang direkomendasikan untuk anda