Pilih kota Anda untuk memulai pencarian

icon

Atau pilih dari kota populer

    Hyundai Kona Electric atau Nissan Kicks e-Power, Pilihan Crossover Berpenggerak Motor Listrik

    Wujud pergeseran teknologi pemacu mobil di Indonesia pada 2020 tampak seru. Ditandai dengan kedatangan bermacam kontestan hybrid hingga full EV. Pun setidaknya saat ini sudah ada dua crossover di pasaran yang murni mengandalkan motor listrik guna mencipta velositas. Seolah pintu menuju era elektrifikasi semakin terbuka lebar. Keduanya adalah Nissan Kicks e-Power dan Hyundai Kona Electric.


    Ya, cocok dipilih bila mendambakan sensasi teknologi mutakhir dengan tebusan yang relatif terjangkau. Meski begitu, selisih harga cukup signifikan antara keduanya: Kicks dilego Rp 449 juta sementara Kona Rp 674,8 juta. Meski mungkin harga bukan masalah, tetap berselisih jauh bukan? Kalau disuruh memilih, siapa lebih pantas untuk dibawa pulang?


    Beda Karakter


    Kona listrik


    Kedua crossover ini tidak benar-benar bisa dibandingkan sebagai kompetitor dekat lantaran jenis pemacunya. Namun, minimal dapat dijadikan dua solusi mobilitas dengan dorongan listrik sesuai prioritas masing-masing. Pasalnya begini, Hyundai Kona merupakan KBL murni tanpa sokongan motor bakar konvensional. Mengandalkan sinergi antara Permanent Magnet Synchronous Motor (PMSM) dengan baterai lithium-ion polymer 39,2 kWh. Perlu pengisian ulang daya untuk menggunakannya.


    Lain cerita pada Kicks. Dorongan melaju memang mengandalkan motor listrik berkode EM57. Jelas memiliki baterai sebagai sumber daya listrik. Akan tetapi, ia tidak dapat dikategorikan sebagai kendaraan niremisi. Lantaran tersemat jantung tiga silinder 1.200 cc HR12 untuk mengisi ulang daya baterai. Satu yang menjadi nilai plus adalah Kicks menawarkan sensasi EV tanpa diikuti kekhawatiran bakal kehabisan daya. Bak sebuah cyborg di semesta otomotif: peminum bensin berotot dinamo.


    Urusan kemampuan memacu juga berbeda meski sama menganut penggerak elektris. Ekstraksi motor listrik Kicks melontarkan daya 129 PS dengan momen puntir 260 Nm. Torehan di atas kertas ini dipastikan kalah telak dibanding Kona Electric. Fakta menyebutkan total tendangan torsi bisa mencapai 395 Nm, diaduk instan dengan bumbu tenaga 136 PS.


    Dari titik ini, sila tentukan sendiri mana sesuai prioritas Anda. Kicks sangat pantas dipilih bila ragu dengan kemampuan mobil listrik untuk dipakai harian. Tapi kalau benar-benar berjiwa eksploratif dan siap dengan segala konsekuensi sekaligus ganjaran sebuah EV, Kona pasti memikat. Tebusan Rp 600 jutaan boleh dibilang relatif murah untuk sebuah KBL murni – setidaknya untuk saat ini.


    Faktor Pemikat


    Nissan Kicks e-Power


    Susuk pemikat kedua kontestan tentu tidak sebatas di ranah pemacu. Ada bagian lain yang dibikin terasa pantas sesuai uang tebusan. Contoh di sisi fitur, lampu LED sewajarnya dimanfaatkan mobil listrik lantaran hemat energi. Ada pula kemudahan akses smart entry. Nah spesifik di Kona, terdapat lubang jendela di atas. Yep, ada sunroof.


    Dalam kabin, Kicks menyuarakan kesan wajar sebuah mobil. Ada set kontrol setir, pedal, dan selector transmisi di konsol tengah yang dirancang konvensional. Sedikit saja dibuat mutakhir lewat pemanfaatan layar pada panel instrumen dan multimedia. Beda ketika masuk Kona, cenderung lebih futuristis. Tidak ada batang mencuat sebagai komando transmisi, tugasnya diganti sepaket tombol. Mejeng pula heads up display sebagai bahan instrumentasi ekstra untuk pengemudi. Seolah lebih pintar.


    Kenyamanan berkendara disokong oleh pemanfaatan material kulit yang membungkus jok. Sementara itu, penyejuk udara telah dipasang perangkat penyesuaian suhu otomatis. Hiburan kemudian datang dari head unit model touchscreen lengkap konektivitas smartphone. Semua hadir di dalam interior para kontestan inkonvensional ini.


    Urusan kelengkapan kabin mungkin bisa dipandang berimbang. Tapi ketika bicara soal safety features, menariknya Kicks tampak jauh lebih unggul. Berbagai perangkat peringatan dan tindakan aktif tersemat di dalamnya. Termasuk Intelligent Forward Collision Warning, Rear Cross Traffic Alert, Blind Sport Warning hingga cruise control adaptif dan sistem rem darurat otomatis.


    Cukup disayangkan Kona belum dibekali kemampuan sekomprehensif itu. Baru berada di batasan standar Kicks seperti ABS, kontrol stabilitas elektronik, Hill Assist Control, dan Airbag enam titik. Sebagai pelengkap, ia turut dibekali TPMS dan cruise control.


    Desain dan Dimensi


    Urusan desain kembali sesuai preferensi masing-masing. Yang jelas keduanya merupakan crossover empat pintu dengan penegas cladding hitam. Langkah aman menciptakan nuansa SUV. Dimensinya pun tidak berbeda jauh. Total pahatan tubuh Hyundai mencatatkan hasil pengukuran 4.180 x 1.800 x 1.570 mm (PxLxT). Nissan Kicks sendiri sedikit lebih panjang dan tinggi dengan catatan 4.305 x 1.760 x 1.615 mm.


    Simpulan


    Bukan perbandingan setara, semua disesuaikan lagi dengan prioritas Anda. EV murni memang menarik dengan tenaga besar dan pastinya minim suara. Kalau khawatir soal pengisian ulang, Hyundai menjanjikan ketersediaan stasiun pengisian di setiap diler. Tapi melihat kondisi infrastruktur saat ini, Nissan Kicks e-Power terlihat lebih cocok. Selain itu, fitur keselamatannya juga jauh lebih komprehensif. (Krm/Odi)

    Artikel yang direkomendasikan untuk anda