KLR650 Bangun dari Koma, Melanjutkan Legenda Enduro Kawasaki

Kawasaki KLR650

Dua tahun lalu Kawasaki KLR650 dihentikan produksinya. Model terakhir yang lahir pada 2008 bertahan cukup lama. Meski akhirnya hilang dari peredaran. Awalnya semua menduga mereka benar-benar selesai dengan sang legenda enduro. Namun itu semua salah, KLR650 MY 2022 bakal lahir kembali dengan interpretasi lama: Mentah dan liar.

Entah mau dianggap payah atau justru menyenangkan. Tergantung preferensi masing-masing. Sebab yang dicari pada sosok tinggi kekar ini memang rasa natural dari berkendara. Tanpa banyak embel-embel teknologi canggih. Apalagi komputerisasi rumit pengatur laju. Tetap sederhana. Seperti kejatuhan durian runtuh punya puritan seperti itu bukan? Tak perlu repot-repot mengembangkan teknologi modern.

Perihal dapur pacu pun, Kawasaki hanya merevisi sedikit. Alih-alih mengambil basis Versys 650 yang terbilang modern, serta berbasis dua silinder, mereka memilih mempertahankan konstruksi piston tunggal. Mesin 652 cc itu sekadar ketambahan sistem injeksi DFI. Ya, tak perlu kaget. Generasi sebelum masih mengandalkan karburator. Dan sisanya berupa setingan sederhana. Menguatkan torsi di putaran tengah. Serta menyempurnakan jalur pembuangan dan cam chain. Selesai.

Tidak ada girboks canggih dengan quick shifter atau assist dan slipper clutch. Rangkaian gigi lima percepatan manual konvensional dipertahankan. Hanya saja ada ubahan rasio pada gir ketiga sampai kelima. Serta mekanismenya dibuat lebih halus, demi memudahkan pengendara bermanuver.

Baca Juga: Kawasaki Z H2 SE 2021 Dimodali Suspensi Cerdas

Kawasaki KLR650

Perihal handling ini turut didukung struktur utama terintegrasi. Tadinya, subframe dan main frame terpisah. Kini keduanya menyambung dalam satu kuncian kokoh. Tentu demi mengejar kekakuan dan akurasi pengendalian. Namun perlu dibuktikan lagi soal fleksibilitas. Lantaran motor enduro juga bertugas menyelesaikan medan berat nan dinamis. Tak cuma itu, swing arm memanjang 30 mm, stang makin lebar 10 mm, serta footpegs diletakkan lebih rendah. Supaya pengendara nyaman.

Urusan penghenti laju, Kawasaki memilih untuk memperbesar single disc brake depan jadi 300 mm. Ini lebih besar 20 mm dari sebelumnya. Sementara disc brake 240 mm belakangnya, lebih tipis 1 mm guna membuang hawa panas lebih baik.

Belum ada informasi pasti soal mekanisme ABS. Tapi hasil kerja sama dengan Bosch ini, diharapkan Kawasaki mampu memberikan impresi natural ketika sedag offroad. Dan beroperasi sebagaimana mestinya (sensitif) waktu dibawa ke jalan aspal. Tidak diinformasikan maksudnya bisa dinyala-matikan lewat saklar. Yang pasti, perangkat itu berupa opsional. Hal menyenangkan bagi para pecinta motor liar.

Selebihnya KLR mengalami update tak begitu signifikan. Seperti lampu utama LED, suatu hal jamak digunakan motor murah sekalipun. Kembali lagi, konsepnya memang tanpa banyak embel-embel. Memang layar instrumennya baru, full digital. Tapi informasi diberikan standar saja seputar fundamental. Tak berwarna pula, alias monokrom. Kalau mau menambah perangkat aksesori, Anda bisa juga memasang pemanas grip serta GPS.

Akan ada dua varian standar dijual, satu tanpa ABS dan dengan ABS. Masing-masing seharga Rp 94,4 jutaan – Rp 98 jutaan. Sementara untuk seri Traveler dan Adventure, berada di kisaran Rp 104 jutaan. Dengan tambahan aksesori box dan perlengkapan jalan jauh. Setelah melihat estimasi harga, pastinya sangat menarik meminang enduro ukuran medium grup hijau ini bukan?

Baca Juga: Kawasaki Versys 1000 S Lengkapi Versi Special Edition

Kawasaki KLR650

Line Up Adventure Kawasaki di Indonesia Ditawarkan Lewat Keluarga Versys

Tidak ada yang setangguh dan senatural KLR series di Indonesia. Dari dulu pun – kalau ada unit tersasar di sini – besar kemungkinan diimpor perorangan. Bukan resmi masuk lewat APM. Menginginkan KLR agak utopis di Tanah Air. Meski tak menutup kemungkinan juga jika generasi barunya nanti jadi bahan pertimbangan. Sementara untuk memuaskan para petualang di sini, PT KMI (Kawasaki Motor Indonesia) menawarkan lewat keluarga Versys. Dari yang kecil sampai besar.

Paling bontot ialah versi 250 cc. Dibagi dalam dua varian, City dan Tourer. Tidak ada diferensiasi teknis, melainkan aksesori. Versi Tourer dilepas dengan perlengkapan penunjang tualang. Hand guard misalnya, sudah menjadi bawaan standar. Lantas tepat di fairing depan, menjalar tulang besi pelindung, sekaligus dipakai untuk bracket fog lamp. Dan di belakang, sudah ada dua box hardcase untuk menyimpan barang bawaan.

Namun, ada yang harus dibayar. Varian City hanya Rp 63,7 juta. Sementara paket lengkap itu baru bisa ditebus seharga Rp 73,1 juta. Selisih hampir Rp 10 juta. Jadi jika merasa tak butuh, hal ini perlu menjadi pertimbangan.

Soal teknis, sama persis. Memangku basis mesin dua silinder parallel 249 cc DOHC, dari Ninja 250. Namun ada racikan berbeda. Outputnya lebih impresif, terutama torsi. Tercatat angka 21,7 Nm yang keluar di 10.000 rpm dan daya maksimal 33,5 Hp pada 11.500 rpm. Karena komposisi diameter silinder lebih besar ketimbang langkah, alhasil baru agresif di putaran tinggi.

Penerjemah daya ke roda belakang, ditugaskan ke gearbox manual enam percepatan. Yang spesial, ia sudah dilengkapi assist dan slipper clutch. Otomatis berdampak pada pengoperasian tuas lebih ringan. Plus, proses engine brake lebih aman dari risiko ban mengunci.

Versys X sendiri belum dibekali upside down. Penopang depan masih mengandalkan teleskopik 41 mm, sementara di belakang monoshock. Untungnya di belakang bisa disetel. Sementara di bawahnya, roda berukuran belang (19-17 inci) disiapkan dalam balutan ban tapak aspal. Berpadu dengan model pelek jari-jari khas adventure.

Mengenai kelengkapan fitur, boleh dibilang menunjang namun standar. Panel instrumen, masih merupakan kombinasi digital analog. Sajian informasi fundamental hingga konsumsi bahan bakar tertera. Tapi tak ada riding mode, kontrol traksi, dan sejenisnya. Pencahayaan LED pun belum ada. Beruntung disc brake depan-belakang sudah terkoneksi sensor ABS.

Naik ke kelas menengah, ada Versys 650. Bagi pemula yang baru mencicip moge adventure, ini bisa jadi pilihan pas. Selain harga berada di angka Rp 180,9 juta, tenaga dan bobot pun masih terbilang jinak. Dibandingkan versi 250, tampangnya jauh berbeda. Terlihat lebih modern sekaligus agresif, berkat desain menyudut di tiap sisi.

Tentu yang ditawarkan pada seri ini, tenaga lebih besar. Dan Kawasaki menjawab dengan amunisi 648 cc dua silinder DOHC, bertenaga 68 Hp/8.500 rpm dan torsi 64 Nm/7.000 rpm. Bersinergi pula dengan transmisi enam percepatan, berteknologi assist dan slipper clutch. Namun cukup disayangkan. Belum ada kontrol traksi dan mode mengendara. Perangkatnya kurang lebih sama dengan versi 250.

Pun pada panel instrumen, memakai paduan analog-digital. Putaran mesin masih ditunjukkan jarum mekanikal, dengan cluster cukup besar. Sementara layar digital, menginformasikan aspek penting kendaraan plus mengomputasi konsumsi bahan bakar. Standar. Untung saja pencahayaannya sudah LED semua.

Pada konstruksi, versi 650 lebih mumpuni dengan fork upside down, plus pengaturan rebound dan preload. Lantas di belakang, monoshock laydown juga bisa dipersonalisasi dengan operasi pengaturan yang sangat mudah. Urusan penjinak laju, tentu berbeda dengan sang adik. Menempel dua disc brake semi-floating 300 mm diapit kaliper besar. Lengkap dengan koneksi ABS dua channel.

Inilah Versys terbrutal. Motor yang diimpikan pencintanya. Wajah paling gahar sekaligus intimidatif. Lampu split LED membuat hidung tajam, seakan siap membelah angin jalanan. Dari tangki hingga ke depan pun sangat berotot. Dan apa yang dikandung juga sesuai. Bukan cuma rupa.

Tak kurang dari 118 Hp bisa diproduksi dari jantung pacu besar. Tenaga besar itu muncul di 9.000 rpm, sementara momen puntir 102 Nm menggila pada 7.500 rpm. Tergolong buas meski bobot tubuh seberat 253 kg. Semua itu hasil ekstraksi mesin 1.043 cc konfigurasi empat silinder segaris, DOHC. Brutal.

Jangan khawatir dengan laju liar. Kawasaki memahami itu, dengan memasang perangkat kontrol traksi yang disebut KTRC (Kawasaki Traction Control). Terbagi dalam tiga mode, untuk disesuaikan dengan kebutuhan. Power mode juga disediakan, mengatur karakter bukaan gas. Ada pilihan low dan high untuk yang satu ini.

Penerjemahan tenaga sama saja, dilakukan oleh gearbox enam percepatan. Disertai assist dan slipper clutch juga. Sensor ABS, dual disc brake di depan, upside down, rasanya tak perlu dipertanyakan. Tentu ada. Ini menjadi varian Versys terlengkap, sesuai dengan harga yang tembus Rp 373 juta OTR. (Hlm/Odi)

Sumber: Cycle world, Jalopnik

Baca Juga: Kawasaki Ungkap Paten Baterai untuk Teknologi Hybrid

Baca Semua

Artikel Unggulan

Artikel yang direkomendasikan untuk anda

Baca Semua

Motor Kawasaki Unggulan

  • Yang Akan Datang