Setelah Meratifikasi Konsorsium Baterai, Honda Bakal Rilis Empat Motor Elektrik mulai 2024

PCX electric

Konsorsium baterai listrik antar empat merek besar mulai membuahkan hasil. Honda, sebagai salah satu yang meratifikasi mengemukakan rencananya merilis motor elektrik. Total ada empat spesies bakal dikeluarkan. Dari mulai kelas skuter sampai performa. Keempatnya disebut bakal mulai meluncur pada 2024.

Belum ada gambaran konkret motor apa saja dalam persiapan perusahaan raksasa Jepang itu. Entah mengaplikasikan sumber tenaga niremisi ke produk eksis, atau menciptakan jenis baru. Sejauh ini baru dikatakan tiga motor berada di kelas sepantar 50 cc – 125 cc. Dua di antaranya berupa skutik. Dan satunya commuter bike, disinyalir merupakan sosok naked bike.

Kalau mengacu ke paten-paten sebelumnya pernah terbit, motor telanjang itu adalah CB125R. Belum ada spesifikasi detail tentunya. Tapi cukup terpampang nyata, bahwa pembuatan naked bike niremisi berasal dari basis terkait. Sementara prediksi soal skuter, bisa saja dibuat dari Activa. Atau bahkan Honda Grom.

Baca Juga: Konsorsium Empat Pabrikan Jepang Temui Kesepakatan Soal Paket Baterai yang Bisa Ditukar

Sementara satu motor lagi cukup menjadi pusat perhatian. Sebab dalam presentasi tergambar sebuah sport fairing, dikategorikan dalam embel-embel “FUN”. Kemungkinan besar ini menjadi evolusi dari kolaborasi Honda dan Mugen, tuner in house-nya beberapa waktu lalu. Sport fairing intimidatif ini bertajuk RCE dan pernah bertarung pada ajang Isle of Man TT.

Rentetan rencana tadi menjadi angin segar, sebab selama ini Honda belum menjual motor elektrik apapun ke pasar. Meskipun ada, sifatnya sekadar pameran teknologi. Atau setidaknya baru menyewakan ke perusahaan. Untuk dijadikan percontohan. Termasuk di Jepang.

Dan secara lini masa, hal ini menjadi masuk akal terealisasi. Lantaran konsorsium baterai listrik baru disepakati oleh Yamaha, KTM, sampai Piaggio beberapa waktu ke belakang. Mereka bekerjasama dalam membuat konsep baterai swappable, atau dapat ditukar-tukar. Demi bisa memperluas jangkauan, mempersingkat waktu pengisian, juga menurunkan biaya kendaraan dan infrastruktur.

Ketersediaan sistem baterai semacam ini dipercaya bakal mendorong penggunaan kendaraan listrik. Paling tidak buat jenis ringan terlebih dulu. Lantas berkontribusi pula dalam siklus hidup berkelanjutan. Dalam kesepakatannya, baterai dibagi dalam beberapa jenis motor. Seperti moped, skuter, roda tiga, sampai ATV. Nantinya pun mereka akan bekerja sama dengan berbagai badan standardisasi Eropa, masing-masing negara dan organisasi global. Para punggawa pula wajib terlibat dalam pembuatan dan regulasi standar teknis internasional. Kegiatan ini setidaknya mulai berjalan pada Mei 2021.

Situasi terkait sebetulnya pernah dilakukan pula oleh empat raksasa pabrik otomotif Jepang. Honda, Yamaha, Kawasaki, serta Suzuki berkolaborasi dan sudah melakukan uji coba swab baterai. Hanya saja dalam konsorsium baru entah mengapa Suzuki dan Kawasaki tak ikut andil. Meski posisinya tetap masih bisa diuntungkan atas perjanjian baru.

Baca Juga: Honda Gyro E Segera Rilis di Jepang, Motor Kargo yang Kini Bertenaga Listrik

Yang Sudah Terlihat Nyata

Setidaknya ada satu produk niremisi Honda bisa dilihat secara nyata. PCX Electric, sejak beberapa tahun lalu sudah mulai melanglang buana di jalanan Tanah Air. Meski tidak dijual ke pasar. Mereka sekadar menyewakan untuk fleet. Tapi paling tidak unitnya sudah eksis dan terus dihadirkan tiap pameran.

Perbedaan dengan model konvensional (generasi lama), secara kasat mata tidak banyak. Tetapi ada hal mendetail menciptakan diferensiasi khusus. Contohnya ruang mesin kini kosong dan posisi dual shock absorber pun mundur karena penggunaan motor listrik. Selain itu, beberapa ornamen diberikan aksen biru, mengartikan motor ini ramah lingkungan.

Hilangnya mesin konvensional menjadikan bagian belakang terlihat kosong. Hanya ada motor penggerak berukuran kecil menyambung pada roda belakang. Nah, saat melihat roda belakang ini, ada lagi yang berbeda. Fender yang biasanya berada tepat di bawah stoplamp, kini dipindah tepat ke belakang roda dengan model terpisah. Fender ini seperti mud guard yang sering menempel di motor besar. Berikut bracket plat nomor juga ikut berpindah mengikuti fendernya.

Dimensinya berubah karena wheelbase memanjang. Jaraknya menjadi 1.380 mm, akibat pemasangan power unit hanger dan motor penggerak serta letak baterai. Otomatis, posisi suspensi belakang juga mundur. Sehingga ukuran total (Px LxT) 1.960 x 740 x 1.095 mm. Tapi ground clearance dan jarak kursi ke tanah tetap sama dengan model konvensional.

Semua lampu yang terpasang sudah LED. Tak luput, DRL juga menghiasi tampang depan motor ini. Memang bentuk headlampnya sama, tapi di balik mika ada aksen biru sebagai penanda ramah lingkungan. Tak hanya itu, logo PCX dan lainnya diberikan kelir biru juga.

Dua baterai swap lithium-ion bertegangan 50,4 Volt atau berkapasitas 20,8 Ah menjadi pusat elektrikal PCX Electric. Dalam data kertas, PCX listrik hanya menghasilkan 5,6 Hp yang diraih pada 5.000 rpm, besar kemungkinan atas peran limiter. Tapi tunggu dulu, torsinya menjadi buas sebab angka 18 Nm diraih pada 500 rpm. Tentu saja torsi berpengaruh dalam berakselerasi. Memang karakteristik mesin elektrik ada pada pencapaian torsi besar yang selalu tersedia.

Dalam keadaan baterai penuh, daya jelajah 69 km dapat ditempuh oleh PCX Electric. Jangan takut, baterainya mudah dibongkar pasang. Bila dayanya habis, tinggal mengganti dengan baterai cadangan. Untuk mengisi daya, dapat dilakukan dengan dua cara : menyambungkan langsung ke soket atau melepas baterai dahulu kemudian disambungkan dengan konektor khusus. Lebih efisien untuk melepas baterainya terlebih dahulu, karena hanya membutuhkan waktu 4 jam hingga dayanya penuh. Sedangkan menyambungkannya langsung ke soket, membutuhkan waktu pengisian selama 6 jam.

Di samping PCX, sebetulnya ada satu spesies menarik lagi. Adalah Honda CR Motocross, sempat dipajang pada Tokyo Motorcycle Show dalam bentuk prototipe. Walau belum pernah menginjak Tanah Air, konsepnya begitu nyata. Dan optimis bisa terealisasi di kemudian hari.

Rancang bangun serta pengembangannya, tak lepas dari bantuan Mugen selaku tuner in-house Honda. Selama ini cukup membuktikan kepiawaian mereka membangun motor listrik. CR pun sudah dites di track milik Honda saat itu. Hasilnya? Belum ada data pasti mengenai ini. Spesifikasi dan output detail masih dirahasiakan. Tapi menurut klaim, ia memuaskan, berfungsi sebagaimana mestinya.

Basis motor menggunakan CRF 250R. Memang tampilannya hampir tak ada perbedaan. Bodi plastik dengan kombinasi warna merah-biru-putih yang khas dipertahankan. Bahkan masih menggunakan rantai dan gear sebagai penggerak. Upside-down dan monoshock Showa juga terlihat menopang kedua roda. Yang menarik lagi, di bagian jantung pacu. Perhatikan, ada semacam kepala silinder dan crankcase. Ternyata hal ini sengaja dibuat menyerupai konstruksi mesin tradisional. Padahal, isinya baterai Maxwell Li-ion. Untuk urusan ini Honda turut menggandeng Panasonic guna mengembangkan baterai yang bisa dilepas pasang.

Agak berbeda dengan produsen otomotif lain di mana menyelaraskan desain produknya. Honda menyajikan CR tanpa embel-embel modern. Pasti menuai perdebatan, tapi menurut kami ini sebuah keunggulan. Para penggemar motor offroad tak perlu kehilangan seluruh sensasi naik motor konvensional, atas evolusi yang terjadi. Pendekatan pada konsumen pun mestinya semakin mudah. Karena tak terkagetkan dengan bentuknya yang terlampau futuristik. (Hlm/Odi)

Sumber: Bike Dekho

Baca Juga: Paten Motor Mini Bertenaga Listrik dari Honda Terkuak, Pakai Basis Grom?

Baca Semua

Artikel Unggulan

Artikel yang direkomendasikan untuk anda

Baca Semua

Motor Honda Unggulan