5 Mobil Legendaris Buruan Kolektor Ini Lahir Berkat Rayuan Saudagar

Betapa menakjubkan bagaimana seorang pedagang mobil bisa berpengaruh atas lahirnya mobil-mobil legendaris. Adalah pria kelahiran Austria pada 1904 yang bernama Maximilian E. Hoffman alias Max Hoffman. Bukan hanya piawai memikat pelanggan, bujuk rayunya bahkan bisa bikin pabrikan besar manut.


Perjalanan hidup Hoffman memang tak jauh dari dunia otomotif. Sempat bekerja di bisnis manufaktur sepeda milik bapaknya hingga jadi pembalap untuk Grofri (perusahaan Austria yang punya lisensi produksi mobil Prancis, Amilcar). Ia bahkan mendirikan diler untuk merek tersebut. Dunia balap lantas ditinggalkan pada 1934 untuk kemudian berfokus menjadi seorang saudagar.


Singkat cerita, Hoffman mendarat di New York akibat berbagai alasan sesaat setelah meletusnya Perang Dunia II. Tanpa koneksi dan modal, ia banting setir ke dunia perhiasan. Beruntung, kesuksesan buka kembali jalan ke industri otomotif begitu perang usai. Terbentuklah Hoffman Motor Company pada 1947 yang melakoni peran sebagai importir Jaguar untuk bagian Timur Amerika Serikat setahun berikutnya.


Eksistensinya ini bantu meningkatkan pamor produk Eropa untuk market AS. Sebut saja Alfa Romeo, BMW, Fiat, Healey, Jaguar, Mercedes-Benz, MG, Porsche, dan Volkswagen. Ada pengaruh Hoffman di balik keberadaan deretan merek tersebut di AS. Pun bukan sebatas meniagakan. Bak memegang kartu As, ia berpengaruh atas lahirnya beberapa model spesifik selaras keinginan pasar. Jadi spesies legendaris, bukan hanya di AS namun menjadi collector’s item di berbagai belahan dunia.


Mercedes-Benz 300 SL Gullwing


mercedes-benz 300 SL Gullwing


Mungkin tak salah kalau menyebut Mercedes-Benz 300 SL sebagai dewa dari jajaran ikon berlambang Three Pointed Star. Barang langka, hanya sekitar 1.400 unit diproduksi dari pabrik Sindelfingen, Jerman. Terkenal eksotis dengan bukaan pintu bak burung camar yang mengepakkan sayap, “Gullwing” pun jadi panggilan sayang. Rangka tubular nan ringan berikut didukung mesin performa tinggi juga cukup pantas membuatnya disebut sebagai supercar pertama bila mengingat lahir di era 1950-an. Fakta menarik, ia terlahir dari mobil balap.


Ya, cerita Gullwing bermula dari pengembangan mobil balap 300 SL W194. Dibuat khusus pada 1952 yang kemudian merajai berbagai sirkuit dari Le Mans, Bern, dan Nürburgring. Tak terkecuali pertarungan daya tahan Carrera Panamericana di Meksiko 1952. Basis atlet ini dijadikan sebagai dasar untuk membuat versi jalan raya sehingga lahir 300 SL “Gullwing” W198.


Nah, tanpa Max Hoffman mungkin jalan sejarah pabrikan akan benar-benar berbeda. Diakui langsung oleh Daimler bahwa proyek pengembangan didasari permintaan Hoffman sebagai importir Mercedes-Benz di Amerika Serikat. Terbayang betapa kuat posisi pria Austria itu di mata pabrikan sekelas Mercedes-Benz. Proyek ini sendiri dimulai September 1953. Hanya butuh setahun setengah bagi para teknisi untuk menciptakan desain baru dari W194. Terbukti sudah dipamerkan perdana pada New York Motor Show 1954.


Jelas terlihat kalau kiblat W198 adalah model kompetisi W194. Pintu gullwing yang kurang praktis saja dipertahankan dengan beberapa rombakan desain sehingga terlihat lebih anggun dan sopan di jalan raya. Harus diketahui, langkah ini bukan merupakan gimik untuk menarik perhatian. Postur tinggi struktur tubular di bagian samping tidak memungkinkan bagi teknisi untuk memasang engsel konvensional.


Di samping itu, terobosan teknologi tampil di Gullwing. Unit enam silinder M198 berkapasitas 3,0 liter disandingkan sistem injeksi mekanikal. Memancangkan tonggak sejarah sebagai versi produksi pertama pabrikan dengan sistem injeksi. Dengan demikian, mesinnya lebih perkasa ketimbang pemacu model kompetisi. Sanggup gelontorkan 212 hp (lebih tinggi 39 hp). Potensi ini membuat 300 SL dapat dipacu hingga 250 kpj.


Alfa Romeo Giulietta Spider


Alfa Romeo Giulietta spider


Nasib Alfa Romeo di market Amerika Utara mungkin kurang begitu baik. Sempat hengkang pada pertengahan 1990-an dan kembali lagi sekitar 2014. Tapi bisa dipastikan ia bukan pemain baru di sana. Menjadi bagian dari merek Eropa dengan ambisi untuk meraup market Amerika Utara di era 1950-an. Melansir Hemmings, Alfa mulai menyusup AS pada 1956 dengan mewakilkan Giulietta Sprint dan Giulietta Spider.


Importirnya siapa lagi kalau bukan Max Hoffman melalui Hoffman Motor Corporation. Memasarkan Giulietta bertubuh coupe 2+2 dan spider beratap terbuka melalui showroom di New York dan Beverly Hills. Namun bukan sebatas menjadi pedagang. Diakui pabrikan, Hoffman memberikan anjuran terkait kebijakan komersial, meminta model spesifik, memberikan saran variasi gaya, dan berkontribusi atas penciptaan satu model baru.


Adalah Giulietta Spider, merupakan permintaan langsung Hoffman kepada Alfa Romeo. Ia meminta pabrikan Italia itu untuk mengaransemen Giulietta Sprint dalam format “Spider”. Dalam rilis resmi sampai ditegaskan pula kalau sang roadster dua penumpang terlahir untuk menjelajah Amerika. Saking optimisnya, sebelum jadi saja Hoffman berkomitmen untuk memesan banyak, konon sampai 2.500 unit.


Wajar mungkin bila Hoffman sangat percaya kalau Giulietta Spider akan terlahir memikat tanpa perlu melihat. Ya, kualitas estetik rancangan Italia memang tidak perlu diragukan lagi. Toh basis Sprint saja sudah begitu manis. Dibikin atap terbuka, tidak ada lagi alasan untuk gagal. Dalam merancang pun Hoffman ikut andil. Meminta jendela samping yang dapat dinaikkan berikut pemanas sehingga bisa membuat Alfa unggul dari lawan asal Inggris.


Giulietta Sprint sendiri resmi mendebut secara global di ajang Turin Motor Show 1954. Baru setahun kemudian keluarganya ketambahan Giulietta Saloon dan disusul kehadiran Giulietta Spider. Dalam proses melahirkan sang Spider, dua desainer besar Italia adu konsep: Bertone dan Pinin Farina. Proposal Pinin Farina dengan desainer Franco Martinengo lantas dipilih lantaran menawarkan balans elegan dan klasik.


Porsche 356 Speedster


Porsche 356 Speedster


Format cabriolet alias beratap terbuka boleh jadi punya pamor tinggi di AS terutama di bagian pesisir. Bayangkan menikmati hangatnya matahari dengan cabriolet bergaya nyentrik. Porsche membaca peluang tersebut dengan menghadirkan 356 America Roadster pada 1953. Mengandalkan bodi aluminium nan mahal sehingga hanya berbobot 605 kg (160 kg lebih ringan dari coupe). Tak perlu mesin besar pula, flat four di sisi belakang cukup menghasilkan 70 hp untuk dapat mencipta senyum. Bukan sebuah hits, Porsche hanya produksi America Roadster sebanyak 16 unit.


Kendati begitu, Max Hoffman meyakinkan eksekutif di Stuttgart bahwa ada ruang untuk Porsche ikut bermain. Lebih hafal medan, Hoffman punya kriteria tersendiri. Syaratnya bukan suatu barang super eksklusif nan flamboyan, melainkan kembali ke hal mendasar. Menyenangkan dan terjangkau, ia meminta sebuah racikan minimalis seharga kurang dari 3.000 Dollar. Atas dasar itu, 356 Speedster terbentuk di akhir 1954.


Boleh dibilang Speedster adalah perkawinan silang antara 356 Cabriolet dan America Roadster. Menawarkan kenikmatan berkendara atap terbuka dengan dinamika berkendara luar biasa. Basisnya mengusung lembaran baja versi cabriolet hanya saja dengan windscreen imut. Penutup kabin memanfaatkan rain-cover top dan jendela terpisah. Perlengkapan kabin diminimalisir, terpasang bangku bucket seat ringan. Esensinya ringan dan menyenangkan. Dapat dipakai untuk bersenang-senang di sirkuit lalu dikemudikan sendiri pulang.


Generasi 356 terus bergulir hingga memuncak pada 1957. Terakhir meluncur, 356 A 1500 GS Carrera GT Spider. Di bokongnya terpasang unit 1.500 cc empat silinder tiduran berkekuatan 108 hp. Tergolong kencang di masanya bahkan menjadi Porsche pertama yang sanggup dipacu hingga 200 kpj. Nama Speedster tidak lantas mati di era 911 meski baru mejeng kembali di 80an akhir.


BMW 507


BMW 507


Pascaperang memang menjadi waktu sulit bagi industri otomotif khususnya pabrikan Jerman. Contoh BMW, sedan seperti 502 “Baroque Angels” tidak benar-benar bisa mengangkat dari keterpurukan. Secara teknis, jantung V8 bawaannya terbilang canggih. Hanya memiliki desain usang. Kesuksesan Hoffman membangun merek Eropa di AS seakan jadi harapan bagi BMW untuk bisa bertahan hidup dan bangkit.


Lagi-lagi, pria Austria itu tawarkan ide cemerlang. Ia berniat untuk membuat sebuah roadster berbekal mesin besar dan canggih dari sang sedan kuno, yakni 507 – dikenalkan 1955 pada gelaran Frankfurt International Motor Show. Tak tanggung, didesain langsung di Amerika oleh Count Albrecht Goertz atas arahan Hoffman. Di balik bonnet tertanam enjin V8 3,2 liter berbahan alloy ringan sekuat 150 hp. Sanggup untuk membawa 507 berlari hingga kecepatan 220 kpj.


Tidak hanya kuat, sebagian beranggapan bahwa 507 merupakan salah satu roadster tercantik di dunia. Di Jerman ia memiliki julukan “Traum von der Isar” – punya arti “sebuah mimpi dari Sungai Isar”. Sukses? Setidaknya saat itu diminati banyak selebriti dan orang ternama. Contoh aktor layar lebar Prancis Alain Delon. Paling terkenal adalah Elvis Presley yang jatuh cinta saat dinas militer ke Jerman – ia bahkan punya dua.


Cantik dan canggih saja tidak cukup untuk memikat khalayak luas. Alih-alih menemukan titik kebangkitan, pabrikan asal Munich itu justru hampir bangkrut karenanya. Nyaris pula mereka tunduk dari Mercedes-Benz. Pasalnya, biaya produksi mobil rakitan tangan di Jerman ini mengerek harga jual hingga dibanderol 10 ribu Dollar AS. Jauh melebihi ekspektasi Hoffman. Setiap unit diproduksi malah membuat perusahaan semakin merugi hingga mau tidak mau disuntik mati pada 1959.


BMW berakhir memproduksi 507 sebanyak 251 unit saja. Ialah salah satu ikon roadster BMW dan sempat punya keturunan istimewa Z8. Kini menjadi resep maut mobil koleksi. Cantik, canggih di masanya, bersejarah, dan diproduksi terbatas.


BMW 2002


BMW 2002


Hingga ke pertengahan 1960-an, Hoffman akhirnya meninggalkan merek lain dan fokus ke BMW saja. Masa kelam mulai berlalu dan BMW bisa kembali bangkit. Semakin kuat pula lewat kelahiran jajaran model “Neue Klasse” 1500 pada 1962 dan 1600 di 1968. Potensi itu dinilai belum cukup kuat untuk menggarap pasar AS. Terbaca akan semakin sukses bila mesin M10 2,0 liter dijebloskan ke model 1600.


Meyakinkan pemangku kuasa bukan hal mudah namun jelas bukan hal mustahil bagi Hoffman. Berbuah manis, sebuah ikon klasik BMW 2002 pun meluncur 1968. Bukan hanya melegenda di AS, image pencipta sedan kencang BMW mungkin pertama terbentuk atas langkah ini. Kupe kompak nan praktis berkekuatan 100 hp dengan satu karburator Solex melantai di Negeri Paman Sam. Di luar itu juga terdapat opsi bertenaga “ti” dengan dua karburator dan ekstraksi 110 hp.


Line up terus berkembang dan dibikin semakin kencang. Tercatat di 1971 datang pembaruan model sehingga menggantikan 2002ti jadi 2002tii. Karbu Solex digusur oleh sistem injeksi mekanikal dan rasio kompresi lebih tinggi. Catatan output disebut mencapai 130 hp. Paling ikonik di antara keluarga 2002 datang 1973. Adalah BMW 2002 Turbo sebagai mobil turbo pertama BMW. Tentu lebih gahar, sanggup muntahkan tenaga sampai 170 hp.


Pamor semakin tinggi membuat BMW ingin mengendalikan sendiri distribusinya. Setelah melalui negosiasi alot, Hoffman berakhir menjual perusahaan ke BMW dan pensiun dari bisnis otomotif pada 1975. Disebut New York Times, ia sangat puas atas pencapaiannya terutama saat bersama Porsche dan Mercedes-Benz. Pria asal Austria itu meninggal 9 Agustus 1981 dan meninggalkan wasiat untuk membangun yayasan amal atas nama ia dan istrinya. (Krm/Odi)


Sumber: Hagerty, Classicdriver, Nytimes, Daimler, Stellantis

Artikel yang direkomendasikan untuk anda